Kampus primitif

Posted February 19th, 2008. Filed under cerita kampus doom

Hari ini19 Februari 2008, jadwalnya daftar ulangbagi mahasiswa angkatan 2005. Saya berangkat dari rumah pukul 06.45 wib dan sampai di kampus pukul 07.45 wib. Tepat! Untung ada angkot ngebut, kalau kagak, mungkin diriku tidak akan sampai di kampus, maklum perjalanan dari rumah ke kampus kurang lebih satu jam dan kalau cepat bisa ditempuh dalam waktu 45 menit, itu kalau cepat, dan kalau lagi tidak beruntung bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 15 menit lebih. Maklum, Padang sudah mulai tertular macet dan juga dodot masih mengandalkan angkot.

Ternyata, banyak juga yang datang lebih dahulu dari dodot, waktu memang belum menunjukkan pukul 08.00 wib. Akhirnya dodot bisa mengantri dan memasukkan abo ke Puskom, tapi yang bikin kesal adalah, abo dimasukkan paling pertama kok keluarnya paling terakhir?

Di kampus tempat dodot kuliah sekarang ini masih menerapkan sistem lama (saya lebih suka menyebutnya kampus primitif). Tata letak bangunan kampus sebarangan seperti kandang ayam, tidak ada taman hijau, jadi kampus tak ubahnya seperti neraka, dan masih banyak lagi, namun yang bikin parah adalah:

Di tengah beberapa universitas di indonesia menerapkan ICT, kok kampus gw lelet banget! Parahnya lagi ketika ngurus SKS. Puskom tak ubahnya seperti pasar, riuh, rame, bau ketek! Kampus lain sudah merapkan ICT untuk pengurusan sks, kok kampus gw blon?

Read the rest of this entry »

Mahasiswa berpolitik? Hmmm…

Posted January 19th, 2008. Filed under cerita kampus

Rasanya kepengen juga nulis tentang yang atu ini. Tulisan yang pernah dan diketahui keberadaannya dilingkungan kampus. Kampus emang penuh dengan cerita-cerita lucu, aneh, menggelitik, komplit dech pokoknya. Namun dari sekian banyak cerita, si pembuat cerita sama seperti trouble maker bagi cerita atau kisah yang dia bikin sendiri.

Mahasiswa berpolitik? Politik ato nggak tetap mahasiswa dikatakan berpolitik atau sok berpolitik. Bagaimana tidak, mereka menuntut kejelasan dari hal-hal yang tidak lazim, seperti menuntut koruptor, mempertahankan sebidang tanah (memang sih halal karena yang dipertahankannya tersebut adalah lahan publik) dan masih banyak lagi. Kalau ditelisik memang itu bukanlah bidang mereka, namun kenapa mereka ikut campur? Ada apa ini…

Permainan politik tidak hanya berbekas disana, dilingkungan kampus sendiri banyak dosen dan civitas akademika yang bosan dengan ulah “mereka”, diantaranya tentulah pihak Dekanan dan Rektorat yang selalu dihujat dan ditentang. Mereka menentang hal-hal yang kalau saya pikir-pikir hal tersebut sudah pasti dan memang akan diterapkan dilingkungan kampus yang notabenenya itu adalah peraturan baru ditahun ajaran baru. Namun kenapa hal tersebut mereka tolak? Kenapa? Tak hanya itu, “mereka” juga ikut memantau intern kampus seperti ketika pihak rektorat mengadakan proyek seperti pembuatan atau peremajaan fasilitas kampus, kelompok yang nomor pertama mengacungkan tangan untuk menentang atau mempertanyakan adalah “mereka” para mahasiswa dengan politiknya sendiri. Memang selaku masyarakat civitas akademika kita harus melakukan hal tersebut lalu bagaimana dengan status manusia berpendidikan yang kita pegang? Saya pernah mendengar perbincangan antara dua orang profesor dijurusan tempat saya kuliah, yang satu masternya dibidang pendidikan alias tamatan dalam negeri, yang atunya lagi master dalam bidang teknik dan pendidikan alias tamatan USI (US & Indonesia). Intinya mereka mengatakan:

 

Read the rest of this entry »