Belakangan banyak aksi demo di berbagai daerah diseluruh Indonesia. Saya jadi tidak tertarik lagi nonton tipi. Nggak tau kenapa yang jelas setiap kali demo pasti “kodok coklat” mengamuk. Entah apa yang bikin dia mengamuk. Tapi apakah aparat pantas mengamuk? Lalu apakah hal ini terjadi karena perektrutan “kodok coklat” yang asal-asalan? Kalau mengenai prekrutan memang seluruh Indonesia tau, siapa yang kenal “kodok coklat”, “kodok biru” pun juga demikian. Nunggu perang oi, hah.

Demo bertaburan dimana-mana, asal muasalnya bertaburan seperti jamur karena spora kenaikan minyak terus membuat panas mesin demo ini. Namun, alangkah baiknya pemerintah tidak selalu memikirkan mengenai inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Saya bosan mendengarnya, inflasi jangan dipelajari dan jangan selalu diliar pasar. Berapa kenaikan pasar? Entahlah. Namun pikirkanlah berapa pertumbuhan penduduk miskin setiap kuartalnya. Itulah yang perlu ditekan dan diberantas.

Wakil presiden ini entah apa yang dipikirkannya sampai melontarkan pertumbuhan ekonomi gila-gila an. 8%-9%. Lah saya yang sering denger berita langsung dari Singapura tidak pernah mendengar bahwa negeri tersebut mencapai pertumbuhan setinggi itu. Ini gila atau orang ngomong nya memang tidak pernah menyensor kata-kata? Ini Indonesia pak, bukan negeri mimpi.

Kembali lagi ke demo, saya justru curiga dengan mahasiswa yang sering demo. Demo is okay, namun jangan anarkis, Anda adalah orang yang berpendidikan. Orang yang berpendidikan berbeda dengan orang yang tidak berpendidikan. Perbedaannya tidak perlu saya jelaskan. Yang jelas, orang yang berpendidikan bisa membunuh orang dan bikin orang tersebut keder hanya dengan ucapannya tidak dengan kepalan tangan dan lemparan batu.

Banyak aktifis ‘98 yang justru berputar haluan. Saya jadi teringat dengan pilem dan buku Soe Hok Gie. Ada apakah ini? Apakah memang tradisi di Indonesia seperti ini atau bagaimana? Ada yang bisa menjelaskan?

Syukurlah di Padang nggak ada aksi demi lagi, cuman ada satu hari Minggu besok kalau tidak salah. Mending ane nonton doraemon di tipi ketimbang demo.

Demo is okay, namun jangan nampak kan Anda para pendemo sebagai orang yang tidak berpendidikan dan orang yang primitif, begitu juga dengan “kodok coklat”. Anda aparat, orang lempar batu kepada Anda, eh Anda justru lempar balik. Begok nggak sih…