Belakangan ini saya selalu sakit hati alias menahan emosi karena beberapa omongan yang bikin kepala gue berasap. Ditambah lagi nggak ada alat pemadam kebakaran bikin kepala ini tambah banyak asap nya.

Dalam satu hari sudah dua kali? Apa? Kisanya: pada hari Kamis kemaren saya ke kantor Rektorat dan kantor Dekan untuk menanyakan beberapa hal. Namun bukannya urusan saya yang lancar dan selesai justru kata yang bikin saya marah dan kesel lah yang saya terima.

Ketika dikantor Rektorat saya mau ke ruang sekretaris Rektor untuk menanyakan beberapa hal, namun baru kali ini lah birokrasi dikampus sudah berubah (berubah pun tak ada gunanya, justru memperkeruh keadaan). Pusing muter-muter dan nggak ketemu (memang ngga ketemu, lah nggak ada tulisan “Sekretaris Rektor”). Saya turun dan nanya dengan satpam, eh dia malah bikin gue marah.

Pak, ruang sekretaris Rektor sebelah mana yah?

Tuh satpam jawab:

Mangkanya, jangan naik aja, nanya dulu!. Tuh disana!

Dada serasa mau meledak, dan tangan sudah mengisyaratkan tuk mengeluarkan samurai, tapi tahan aja dulu, kalau tuh satpam nyerocos, baru dipangkas lehernya.

Sialan tuh satpam, nggak pernah sekolah kali yah! Saya jamin, satpam tersebut pasti dari mudik, alias dari daerah purba sono, yang manusia nya sok tau dan nggak tau ama yang namanya sekolah, mereka cuman kenal yang namanya uang!

Siapa coba yang nggak marah dengan perkataan satpam tersebut, saya nggak mau menyambung cuap-cuap dengan tuh satpam dan langsung pergi. Saya maklumi tuh orang berkata demikian, karena itu kantor rektorat, maklum lah birokrasi di negeri ini, siapa yang bisa menjilat berarti dia mujur.

Setelah selesai urusan di kantor rektorat saya langsung meluncur ke kantor dekanan dan justru tambah bikin sakit hati lagi. Saya mau duduk karena mau menunggu salah seorang pegawai disana dan kebetulan tuh ibu-ibu lagi keluar ke ruang tata usaha, jadi saya tunggu lah dikursi. Eh ada satpam yang bilang:

Eh jangan duduk disini, ini kursi untuk tamu!

Apa? Kursi tamu? Lah, bapak itu dan bapak satpam kok bisa duduk disini? Setelah tuh satpam ngomong, eh mereka berdua dengan enak jalan meninggalkan kursi (kursi tamu) yang mereka duduki. Bukannya penat hilang sediki eh sakit hati yang bertambah.

Tuh satpam emang asal nyrocos. Dia bilang itu kursi tamu dan nggak boleh diduduki ama mahasiswa. Toh buktinya dia malah duduk disana ama salah seorang pegawai tata usaha yang lagi ngeloyor. Ampun memang. Parah nya!

Yah… begitulah. Kampus, kampus, kampus, tau kan ama yang namanya kampus, tapi kenapa ada manusia suka nyerocos seperti itu? Mereka memang satpam, namun apa mulut mereka bisa menyensor kata demi kata?

Ini adalah kesekian kali saya menerima perlakuan seperti ini. Banyak tempat yang bisa anda sakit hati dikampus saya. Hampir diseluruh bagian yang berurusan dengan mahasiswa, seperti puskom, regitrasi, perpustakaan, pokoke banyak lah.

Kampus pa an nih?