Internet emang menjadi permasalahan atau dipermasalahan ya? Namun teramat sayang kalau Indonesia di taon ini masih tetap memiliki akses internet yang masih sama saja ditaon kemaren dan yang terpenting kapan murahnya? Apakah akses internet di Indonesia masih mahal?

 Bulan Maret tahun lalu pemerintah Singapura memperkenalkan rencana pembangunan infrastruktur infokom nasional generasi baru. Konon, saat rencana ini terwujud, kecepatan internet di Singapura bisa mencapai 50 kali lebih cepat daripada yang dimiliki saat ini.

Tulisan diatas saya comot dari Radio Singapura Internasional, kebetulan saya ikut e-buletin jadi ada info baru dari RSI masuk ke inbox. Tak cuman kabar dari Singapura, bahkan ini yang bikin takjub, lagi-lagi main comot dari situs teknoinfonya milik bang Raffaell Sanzio.

 Seorang nenek nenek sedang menggunakan internet dengan akses tercepat di dunia, nenek nenek yang berusia 75 tahun menggunakan internet dengan kecepatan 40 gigabits-per-second fiber-optic di sebuah kota yang bernama Karlstad yang dipercayai koneksi ini adalah koneksi yang tercepat untuk sebuah residental di dunia, Karlstad city. kurang dari 2 detik, Lothberg dapat men download full-length movie kedalam computer nya — ratusan kali lebih cepat dibandingkan residential connections di tempat lainya, kata Hafsteinn Jonsson, kepala Karlstad city network unit. Jonsson dan anaknya Lothberg, Peter, bekerja sama untuk menginstall koneksi ini.

Kecepatan ini bisa di capai dengan menggunakan teknik modulasi terbaru yang memungkinkan untuk sending data diantara 2 router yang terletak diantara 1,240 miles, tampa adanya transponders diantaranya between, Jonsson mengatakan.

“Kita ingin memperlihatkan bahwa seharusnya tidak ada batasan untuk kecepatan Internet”. Peter Lothberg, adalah seorang networking expert, dia ingin men demonstrasikan teknologi terbaru ini sambil memberikan links internet untuk ibunya.

“Dia adalah brand new Internet user, katanya” Lothberg melalui telfon dari California, dimana dia tinggal saat ini. “Bahkan dia tidak memiliki komputer sebelumnya.”

Padahal ibunya tidak begitu membutuhkan high-speed connection dirumahnya. dia menggunakan komputer hanya untuk membaca Surat Kabar dari Web.

Gila bener,  jadi emang kebutuhan internet menjadi persoalan dinegeri ini. Dari taon ke taon jumlah pengguna internet bertambah namun tidak dibarengi dengan pembangunan fasilitas yang memadai bahkan yang lebih parahnya, daerah yang menjadi korban dimana daerah tidak bisa menikmati akses internet yang setara dengan perkotaan. Bukankah harus ada pemerataan.

 Walaupun internet masih relatif mahal bagi sebagian besar rakyat Indonesia, pasti teman-teman yang membaca tulisan ini tidak terlalu mempermasalahkan itu bukan? Kebanyakan kita alhamdulillah masih punya akses internet dari kampus kita masing-masing, atau dari warnet langganan kita, atau bahkan yang berlangganan internet berkecepatan tinggi di rumah masing-masing. Untuk yang terakhir ini, sayangnya tampaknya tidak banyak rumah tangga Indonesia yang memiliki itu.

Tulisan diatas saya comot lagi dari blognya Ilm@n. Rasanya saya jadi mau ikutan bermimpi, seandainya tinggal di Singapura dengan akses internet unlimited pake wifi ntah apa yang bisa saya lakukan dengan resource seperti itu. Tak terbayangkan memang.