Rasanya kepengen juga nulis tentang yang atu ini. Tulisan yang pernah dan diketahui keberadaannya dilingkungan kampus. Kampus emang penuh dengan cerita-cerita lucu, aneh, menggelitik, komplit dech pokoknya. Namun dari sekian banyak cerita, si pembuat cerita sama seperti trouble maker bagi cerita atau kisah yang dia bikin sendiri.

Mahasiswa berpolitik? Politik ato nggak tetap mahasiswa dikatakan berpolitik atau sok berpolitik. Bagaimana tidak, mereka menuntut kejelasan dari hal-hal yang tidak lazim, seperti menuntut koruptor, mempertahankan sebidang tanah (memang sih halal karena yang dipertahankannya tersebut adalah lahan publik) dan masih banyak lagi. Kalau ditelisik memang itu bukanlah bidang mereka, namun kenapa mereka ikut campur? Ada apa ini…

Permainan politik tidak hanya berbekas disana, dilingkungan kampus sendiri banyak dosen dan civitas akademika yang bosan dengan ulah “mereka”, diantaranya tentulah pihak Dekanan dan Rektorat yang selalu dihujat dan ditentang. Mereka menentang hal-hal yang kalau saya pikir-pikir hal tersebut sudah pasti dan memang akan diterapkan dilingkungan kampus yang notabenenya itu adalah peraturan baru ditahun ajaran baru. Namun kenapa hal tersebut mereka tolak? Kenapa? Tak hanya itu, “mereka” juga ikut memantau intern kampus seperti ketika pihak rektorat mengadakan proyek seperti pembuatan atau peremajaan fasilitas kampus, kelompok yang nomor pertama mengacungkan tangan untuk menentang atau mempertanyakan adalah “mereka” para mahasiswa dengan politiknya sendiri. Memang selaku masyarakat civitas akademika kita harus melakukan hal tersebut lalu bagaimana dengan status manusia berpendidikan yang kita pegang? Saya pernah mendengar perbincangan antara dua orang profesor dijurusan tempat saya kuliah, yang satu masternya dibidang pendidikan alias tamatan dalam negeri, yang atunya lagi master dalam bidang teknik dan pendidikan alias tamatan USI (US & Indonesia). Intinya mereka mengatakan:

 “Semakin berpendidikan dan tinggi dejarat pendidikan seseorang orang tersebut tidak akan cepat marah, dia justru akan dengan cepat meredam emosi yang dialaminya [...] perkataannya pun juga tak menyinggung bagi yang mendengarkan.”

Dikampus ada beberapa tempat yang dijadikan sebagai gudang nya aktifitas berpolitik bagi mahasiswa diantaranya MPM, BEM-U, BEM-F, & HIMA. Nah yang menempati urutan puncak dalam hal politik paling keras dan paling dikecam oleh pihak dekanan dan rektorat adalah MPM. Setiap kali Rektorat mengeluarkan peraturan baru mereka selalu diundang bahkan pertentangan selalu terjadi disetiap rapat. Mahasiswa menggebrak meja? Sopankah? Namun itu yang terjadi.

Mahasiswa memang tak sepantasnya melakukan hal-hal atau kegiatan berpolitik yang terlampau. Namun ada sebagian yang mencari-cari kesempatan untuk hal ini. Entah bosan atau muak dengan perlakuan pihak kampus atau entah bagaimana, mereka melakukan pengerusakan dan keceman-kecaman serta tentangan-tentangan terhadap pihak kampus. Memang tak jelas apa yang mendalangi semua itu. Bahkan pernah saya dapati salah seorang teman yang memang ikut-ikutan berpolitik di mpm justru tidak dihargai ketika dia berkunjung ke Dekanan untuk mengurus beberapa surat untuk keperluan perkuliahannya. Adilkah? Ketika itu, saya cuman terheran-heran, kenapa dengan bapak ini? Setelah diselidik ternyata, teman saya ini pernah menentang pihak dekanan dalam rapat di rektorat mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru dikampus, akibatnya ya…. bisa ditebak kan?

Berpolitik atau nggak tekanan datang silih dengan berganti. Selain tekanan dari teman-teman dikampus juga tekanan dari para dosen. Untung saya nggak pernah ikutan dengan yang demikian, karena membosankan, memuakkan, dan ngabisin waktu, mendingan hunting buku dan ngeblog.