UAS pasti datang diakhir semester walaupun tidak diundang dan UAS kita bisa melihat siapa saja yang persiapannya matang dalam semester yang akan dilewati tersebut. Namun saya melihat UAS hanya sebagai sebuah formalitas dan kenapa harus dilaksanakan? Lebih baik tanpa UAS dan hanya tugas saja.

UAS dan UAS dan UAS. Banyak cerita dari UAS tersebut. Sampai pada saat UAS pun saya menderita sakit dan bela-belain ke kampus hanya untuk UAS. Dan akhirnya yach… pulangpun dianter ama teman. Banyak duka dan suka dari UAS, namun di semester V ini UAS yang saya hadapi semua bisa dikatakan UAS Open Book (Open Source kali). Bahkan soal yang berstatus “Close Book” pun berubah menjadi “Open Book”. Namun yang terpenting bagi teman-teman ketika itu adalah nilai di Lembaran Harian Semester aman-aman saja dan lebih mengambil resiko ketika UAS.

Hari pertama UAS bagi saya dimulai dari hari Selasa sampai hari Sabtu dan dalam minggu ini cuman UAS pelengkap aja alias UAS untuk memenuhi nilai seperti presentasi laporan dan sebagainya. Hari pertama UAS soal sudah berstatus “Open Book” walaupun mata kuliah pada saat itu termasuk dalam kategori berat yakni hitung-hitungan dan hari kedua juga sama, hitung-hitungan juga. Hari ke  tiga barulah teori. Nah dihari ketiga inilah soal berstatus “Close Book”. Saking takutnya banyak teman-teman yang memilih jalur aman yakni dengan seleksi penguji atau pengawas ujian. Di incar pengawas yang terbaik menurut mereka, saya pun ikutan dari pada tewas ntar sewaktu ujian dan kagak belajar lagi malam harinya (kalau pun belajar nggak dapet ama sekali apa yang dibelajarin, jadi lebih baik ngeblog). Nah kebetulan si bapak dosen yang mengajar mata kuliah tersebut tidak datang ketika UAS berlangsung jadi semuanya aman dan benar-benar aman. UAS untuk mata kuliah yang atu ini dilakukan di tiga ruangan berbeda dengan pengawas yang ketiduran semua. Bener-bener ketiduran, ada yang asik memerika tugas, ada yang bener-bener sama dengan tidak mengawas dan ada yang ngantuk berat. Saya berada dilokal yang pengawasnya bener-bener ngantuk berat, jadi ya…. ambil resiko aja dengan “Open Book” diatas meja. Dari ketiga ruangan tersebut tidak ada yang mematuhi perintah atau status dari soal mereka semua mengambil jalan yang terbaik bagi mereka. Jadi pada hari yang satu ini bisa dikatakan sama sekali tidak UAS namun di UAS-kan.

Sungguh berbeda dengan beberapa kampus yang saya ketahui. Dikampus yang satunya lagi alias kampus tetangga mungkin sebaliknya. Dan saya justru terkejut ketika berkunjung ke ITB semester lalu. Mahasiswanya nurut dan memang ada keinginan untuk belajar berbeda dengan kampus tempat saya kuliah sekarang ini. Kalau tidak salah di ITB ketika itu sedang ada ujian (tidak UAS, tapi pokoknya ujian gitu). Pengawasnya tidak ada, kalau pun ada lokalnya yang bermasalah, lokalnya kecil sampai berjubel ke luar ruangan. Namun yang berada diluar asik ngerjakan soal walaupun tas dipangkunya. Mungkin kondisi serupa akan menjadi kebalikannya dikampus saya. Selagi masih bisa open book, yo silahkan dibuka.

Nah saya jadi mau bertanya, kalau melihat kondisi tersebut kenapa UAS masih dijalankan? Bukankah UAS=tidak UAS? Kalau pun memang demikian UAS hanya menjadi formalitas belaka alias sebagai pemberi kabar ke pihak rektorat kalau sudah UAS di jurusan yang atu. Pihak jurusan juga sudah mengetahuinya mungkin karena jurusan saya terkenal akan kebaikan hati dosennya kali yach. Masih di fakultas yang sama, jurusan yang dosennya paling baik adalah jurusan yang saya ambil sekarang ini dan jurusan yang paling kiler dosennya adalah jurusan tetangga yaitu jurusan Elektro. JAdi berbanding terbaik atau dibalikkan?

Kalau cuman sekedar formalitas kenapa UAS dilangsungkan, mahasiswa sebaiknya diberikan tugas lapangan aja. Survei misalnya dan hasil surveinya tersebut harus dipertanggung jawabkan, bukan asal-asalan survei saja. Banyak yang asal-asalan survei, bahkan tidak pergi survei pun dosen mengetahuinya dan untuk laporannya mahasiswa yang atu ini mengcopy laporan senior mereka. Saya mah kagak berani, terlalu beresiko kalau dipikir-pikir.

Jadi, UAS atau tidak UAS sama saja dijurusan saya. Nah apakah ketika UAS kemaren anda berkelakuan sama dengan yang saya alami atau bener-bener belajar dan kalau pun ada kesemapatan anda tidak melakukannya (open book misalnya)?.