Sebenarnya sungguh bosan kalau kuliah tanpa hasil sama dengan mendayung melawan arus ditengah arus sungai. Yoa….

Cerita punya cerita nech yang saya alami, cerita ini adalah cerita yang terjadi pada tangal 26 Nov kemaren, udah lewat sech tapi saya baru sempat menulisnya sekarang karena bosan dan banyak tugas kuliah yang numpuk yang perlu disapu dan syukurlah hampir kesemuanya sudah hampir bersih disapu.

Hari itu Senin 26 Nov (ce ile… kayak nulis biografi) angka penunjuk waktu sudah menunjukkan pukul 14.30 dan perkuliahan belum ada nampak akan berlanjut, dan pada pukul 14.31 barulah perkuliahan dimulai. Yap, lewat satu menit. Kuliah berjalan lancar dan lancar sekali menurut saya karena sebelumnya dan pada saat kejadian saya suka belajar dengan dosen tersebut karena: tidak banyak dongeng, best imajination, and best of the best for learn. Saya lebih suka belajar lewat banyak cara, terawangan, buku, dan juga imajination. Perkuliahan sudah berlangsung selama 30 menit dan selanjutnya kata yang terucap dari saya adalah “Oh my Lord”. Lagi-lagi kuliah berisi kemarahan dosen kepada mahasiswa. Kuliah seperti ini sudah sejak lama. Dan sampai detik ini perkuliahan seperti itu masih terus berlalu tanpa ada yang bisa merubah cara berpikir mahasiswa. Dan dampak terbesar selain membuat dosen menjadi pengidap tekanan darah tinggi juga membuat mahasiswa lainnya yang mampu (dalam artian bisa berjuang tanpa tertular penyakit tersebut) juga tertular penyakit menular dari senior tersebut.

Sungguh dan sungguh… (jawab sendiri)

Sampai-sampai bapak tersebut marah, karena kejadian baru dimulai. Ada salah seorang teman yang lagi flu (tidak terlalu berat, tapi kalau dijadikan menjadi flu parah ya parah dong boss!@) ingin “ke belakang” dan secara tiba-tiba si bapak marah.

B: “Kamu mau kemana”

@: “Ke toilet Pak …”

B: “Dari tadi sebelum masuk kelas saya perhatikan kamu tapi kamu tetap cuek, acuk tak acuk untuk kuliah dengan saya dan sekarang kamu mau keluar seenaknya, kamu pikir kamu siapa? Pakai oblong dan sandal lagi!!!”

@: “Kamu marah…”

B: Ucapan dan nasehat untuk semua; “Kalau kamu ingin kuliah apakah kamu hanya perlu membawa satu buku catatan yang diapit disaku sebelah kiri, pinjam pena teman, pakai oblong, pakai sandal, dan tidak memperhatikan lagi! Bahkan buku pegangan pun tidak ada, hanya buku catatan! Kalaupun kamu nantinya setelah tamat dari sini, dan kamu menjadi tukang ojek, atau apalah paling tidak kamu sudah tau dan mengenal x—-x (mata kuliah bapak tersebut, saya tidak bisa menyebutkan mata kuliah tersebut karena….) dan buat apa mencatat kalau itu pikiran mu!”

Sungguh pun demikian, saya merasa malu, begok, dan paling malu menurut saya. Walaupun ketika itu saya sudah memegang buku pegangan alias diktat yang dibuat oleh bapak tersebut dan saya hanya satu-satunya yang menggunakan buku tersebut dan satu-satunya yang memiliki buku pegangan. Huh, kuliah yang tak terbayangkan dan kalau begini terus apa jadinya mahasiswa tamatan dari perguruan tinggi dimana saya kuliah?

Tulisan ini tidak untuk tidak setia kepada almamater dan memburuk-burukkan nama almamater, tetapi fokus tulisan saya hanyalah kepada mahasiswa yang berada dibawah naungan almamater tersebut. Kapan dan siapa yang akan membawa perubahan nantinya?

Bapak tersebut sudah berulang kali melakukan tindakan serupa.Saya masih ingat, ketika masih duduk dibangku semester 1 atau 2 yach, tindakan juga sama dan kejadiannya juga sama. Memang bodoh kalau kuliah setingkat kalkulus mungkin kita tidak memiliki buku pegangan. Buku yang akan menjadi kitab suci untuk selamanya tersebut harus dicopy oleh sebagian besar mahasiswa dengan perasaan tertekan, tapi saya enjoy aja. Karena selain memiliki tambahan koleksi, juga mendapat keuntungan karena kita bisa lebih mengenal tentang apa yang disebut dengan termodinamika.

Nah bagaimana tanggapan anda atas kasus atau kejadian seperti diatas??

Memang mahasiswa dimana saya kuliah sekarang berbeda, termasuk saya sudah hampir tertular 100% oleh penyakit menular tersebut. Dan kini saya hanya ingin berubah dan berubah, pokoknya semuanya harus berubah dan tak peduli atas apa tanggapan teman-teman terhadap saya dan terhadap tulisan didalam blog ini. Oh iya, saya masih ada cerita lagi, kalau masalah cerita seperti diatas sech banyak dan beragam.

Cerita tentang tugas dan ujian mid semester.

Kuliah berlangusung sudah lama dan sudah akan memasuki ujian semester pada bulan januari 2008 mendatang. Dan matakuliah yang saya ambil kembali ini dimana ketika mata kuliah yang sama disemester 3 saya memperoleh nilai “C” ditengah teman-teman yang memperoleh nilai “B”, ndak tau kenapa, tapi kalau memang demikian terima kasih Tuhan. Kuliah dijalani dari minggu ke minggu dan tibalah saatnya si bapak dosen memberikan tugas. Ku catat apa tugasnya dan ku ingat-ingat kapan tugasnya dikumpul (biasanya tugas demi tugas yang diberikan selalu terngiang dikepala). Dan minggu depannya ketika tugas tersebut harus dikumpul, kebetulan saya ada janjian ama teman dan harus datang pagi-pagi sedangkan kuliah dimula pukul 9.40 dan saya sudah berada dikampus pukul 8.30. Ternyata diteman tidak datang dan terpaksa dech nunggu sampai masuk klas. Saya sudah tau kejadian apa yang akan terjadi kalau ada tugas. Dan yup memang benar. Satu teman datang dan bertanya:

@; “Ada bikin tugas?”

i: “Sorry boss, saya tidak membuat!” Sudah berhitung mundur dari 5 dan ternyata tepat sekali dia menanyakan, sama dengan tahun baru kali! Tapi biarkan saya berbohong pada saat itu Tuhan.

@: “kalau kamu buat dan mengumpulkan nantinya awas…!”

i: Dalam hati saya menjawab, “emang gue pikirin, bapak gue nggak pernah mengancam lou mau coba-coba mengancam gue, gue ancam lou pasti nurut”

Dan satu demi satu teman terus nanya dan nanya, sampai 6 orang kalu tidak salah. Dan sampailah waktunya untuk kuliah. Ternyata pada hari itu adalah hari yang sudah disepakati untuk mid semester dan ya apa yang tak terduga bisa menjadi kenyataan. Saya langsung pindah duduk ke bagian depan untuk menghindari para pengganggu. Tapi para pengganggu tersebut masih saja terus mengikuti sampai saya berada didepan, tapi saya bersikap acuh tak acuh. Lalu sampailah saya yang pertama kali mengumpulkanya walaupun 30% jawaban saya salah, tapi “Terima Kasih Allah”. Ternyata salah seorang teman yang berada dibelakang saya marah-marah dan mengejak serta menyindir. Begini lah beganalah (saya tidak ingat lagi apa perkataannya, tetapi staying sane in the crazy world sungguh berat). Tidak tau alasannya marah-marah, tapi yang saya tau, kalau ada salah seorang teman yang membuat dan mengumpulkan terlebih dahulu tanpa memberikan contekan kepada teman akan dikucilkan atau diejek-ejek dan sejenisny alah. Is it bullying? Setelah ujian tersebut selesai, saya kumpulkan tugas yang minggu depan diberikan oleh dosen tersebut seorang diri.

Nah bagaimana tanggapan anda?

Perguruan tinggi dimana saya kuliah sekarang ini memang aneh. Atau masalah dasarnya mungkin karena sebagian besar mahasiswa adalah para penduduk desa, dusun, dan kampung yang tidak bisa ditekan dan tidak bisa berbaur dengan para dosen yang selalu menunut kesempurnaan. Saya rasa memang begitu. Karena dari para senior saya melihat teman-teman kuliah hanya untuk:

  • ngabisin duit babe
  • nyari si doi
  • dandan ke kampus alias pamer style
  • pergaulan, siapa yang paling gaul, tapi menurut saya kenapa tidak digauli biar kapok
  • ngambil gelar aja
  • main-main
  • nyari teman senasib
  • ha ha dan hi hi

Jadi apa tanggapan anda? Dan menurut anda apakah yang sebaiknya dilakukan oleh kampus?