December 2nd, 2007Cerita yang pertama
Kampus, yoa kampus. Terkadang ada yang kekampus mau nyari pacar, ada yang nyari ilmu alias belajar, ada yang mau ngabisin duit orang tuanya lantaran si ortu tajir (gimana nggak jual beras) dan kompleks dech pokoknya. Tetapi setelah dilihat-lihat, kehidupan dikampus tidak jauh berbeda dengan kehidupan ketika SMA dulu, malahan SMA yang lebih parah eit kebalik, dikampus yang lebih parah.
Kampus yang saya ceritakan ini merupakan kampus dimana sekarang saya menimba ilmu. Ya… kampus adalah tempat yang paling diidam-idamkan ketika masih duduk dibangku sekolah menengah kejuruan. Namun kini apakah saya salah tempat atau salah waktu dan kondisi atau salah saya sendiri atau sudah memang nasib yang membuat saya tidak ada perubahan dari pertama kali menginjakkan kaki dihalam kampus sampai dengan detik ini, tahun terakhir (Insya Allah).
Pertama kali saya menginjakkan kaki dikampus yakni pada tahun 2005 karena pihak kampus menerima saya sebagai mahasiswa undangan dari jalur PMDK - karena nilai saya lumayan untuk bisa masuk dan kalau ambil SPMB kemungkinan besar tidak akan lulus, jadi ambil jalur aman aja. Semester pertama adalah semester penentuan bagi ku untuk dapat berbaur dengan lingkungan dan juga berbaur dengan teman-teman dan para dosen dilingkungan kampus. No friends, no heaven. Begitulah, tetapi saya berprinsip ; “selagi masih bisa kerjakan dan begitu juga kalau tidak bisa”. Dan ternyata prinsip itu tetap saya pegang sampai tahun terakhir ini. Semester demi semester berlalu. Mulai dari semester dua, tiga, empat, dan sekarang semester lima untuk mengambil gelar A.Md alias”anak masuk desa”.
Tetapi, ketika duduk disemester tiga saya sudah merasa tidak betah. Pasalnya saya kembali bertanya kepada diri sendiri. “Sudah tiga semester saya duduk dibangku kuliah dan tidak ada kemajuan sama sekali!”. Dan bayangan itu masih tetap saja menghantui. Saya terus belajar dan terus mencari hal-hal yang tidak saya temukan ketika di kelas. Mulai dari dosen yang mewajibkan mengopy silabus dan tidak menyinggung silabus itu sama sekali. Sampai dengan cerita hayalan. Ya… dongeng sebelum tidur. Tapi… keep enjoy boss!.
Pertanyaan demi pertanyaan kembali merasuk ke pikiran. “Apa penyebab saya menjadi seperti ini?”. Setelah selidik punya selidik, ternyata memang lingkunganlah yang tidak mendukung. Lingkungan ini adalah seluruh aspek yang bersangkut paut dengan proses perkuliahan. Mulai dari prasarana, sampai dengan rekan-rekan dikampus. Lokal seperti neraka ditambah dengan cara mengajar dosen yang tidak merasuk membuat ku malah belajar dirumah. “Buku banyak dirumah dan sedikit demi sedikit ku pelajari, i don’t care with many peoples around me!”.
Selian itu, ketika ada tugas yang diberikan oleh dosen dan pada hari dikumpulkan kita bisa mengumpulkan berapa banyak orang yang bertanya “sudah bikin tugas? Kalau udah bisa pinjam nggak?” kepada kita. Malahan sampai 20 orang lebih loh ketika saya hitung. (teman-teman bertanya kepada saya). Dan itu sungguh mengecewakan, karena apa tujuan mereka datang kekampus kalau bukan untuk belajar bukannya bertanya dan meminjam tugas teman. Dan parahnya lagi ketika ujian. 30 menit sebelum ujian lokal sudah penuh dan tidak ada teman-teman yang beranjak dari bangkunya sebelum ujian dimulai. Pikiran saya adalah; “pilih dapat A duduk dekat teman yang pintar, dan kalau mau dapat E duduk ama teman sejawat”. >>>
Apa mau dikata, dosen pun tau akan kejadian ini dan seluruh aspek yang berada dalam permasalahan perkuliahan. Namun apa mau dikata. Tegas sudah, tapi tidak ada yang takut akan ketegasan. Disiplin sudah, taku emang, tapi tidak bertahan lama. Lalu harus bagaimana dong….
Ya… Tuhan… percepatlah saya lulus….
ku mohon…..
Malahan pernah kejadian, pada saat dosen mengasih tugas dan tugas tersebut seharusnya dikumpulkan minggu depan dan karena si dosen berhalangan untuk masuk ditunda menjadi minggu depan. Dan ternyata masih tidak ada teman-teman yang mengerjakan, justru mereka datang 30 menit - 60 menit sebelum perkuliahan dimulai hanya untuk mencari sebuah jawaban dari sebuah soal. Sungguh mengherankan, dan kejadian tersebut tidak saya temui di kampus tetangga kami. Kenapa virus ini melanda kampus tempat saya menuntut ilmu? Ada apa?
Profesor bidang pendidikan banyak, tapi kok nggak ada tindakan?? Ada apa? Apa karena seluruh mahasiswanya dari kampung jadi daya belajarnya lemah!??
Coba aja berkunjung dan coba untuk kuliah ditempat saya kuliah sekarang, mungkin ada akan merasa sama. Ingat; mungkin.
nb:
seluruh kejadian dalam tulisan diatas tidak menggambarkan atau menceritakan seseorang alias tidak subjektif dan tidak objektif untuk menyakiti hati seseorang. Tetapi saya hanya mendasarkannya. Ingat loh; saya tidak menceritakan anda atau anda atau anda, dan itu hanyalah cerita dari saya untuk anda. Terima kasih dari ladokutu

